![]() |
| ilustrasi pribadi |
Malam selalu menjadi sekutu bagi hal-hal yang tak ingin ditemukan. Di balik gelap, orang-orang bisa menjadi versi lain dari dirinya, lebih jujur, atau justru lebih dusta.
Putra berdiri di sudut kafe kecil yang hampir tutup. Jam menunjukkan pukul sebelas malam, waktu yang tidak biasa untuk sekadar berbincang, tapi justru terlalu biasa untuk sesuatu yang dirahasiakan.
Tak lama, Sandova datang. Langkahnya pelan, matanya memastikan sekeliling aman sebelum akhirnya duduk di hadapan Putra.
“Kamu lama nunggu?” tanyanya pelan.
Putra menggeleng. “Nggak. Aku juga baru sampai.”
Mereka saling menatap. Ada rindu di sana, tapi juga sesuatu yang lebih dalam, rasa bersalah yang tak pernah benar-benar pergi.
Sandova tersenyum tipis. “Aku bilang ke dia lagi lembur.”
Putra mengangguk pelan. “Aku juga.”
Kalimat itu menggantung di udara. Mereka berdua tahu, hubungan ini dibangun di atas kebohongan yang sama.
Awalnya, semua terasa sederhana. Mereka bertemu di sebuah forum diskusi yang membahas hal-hal remeh, buku, musik, dan kehidupan yang terasa terlalu cepat berjalan.
Putra sudah memiliki seseorang dalam hidupnya. Begitu juga Sandova.
Tapi entah bagaimana, percakapan mereka menjadi lebih panjang dari yang seharusnya. Dari sekadar bertukar pesan, menjadi berbagi cerita. Dari berbagi cerita, menjadi saling menunggu.
Dan dari menunggu, mereka mulai merasa kehilangan ketika tidak saling menyapa.
“Ini cuma teman,” kata Putra pada dirinya sendiri waktu itu.
“Ini nggak akan jadi apa-apa,” Sandova meyakinkan hatinya.
Namun, hati seringkali tidak mengerti batas yang dibuat oleh logika.
“Kadang aku capek, Put,” kata Sandova suatu malam.
“Capek kenapa?” tanya Putra.
“Capek jadi orang lain.”
Putra terdiam.
“Aku pulang ke dia, tapi yang aku pikirin kamu. Aku ketawa sama dia, tapi yang aku rasain kosong. Aku benci perasaan ini.”
Putra menggenggam tangannya, pelan, seperti takut dunia akan runtuh jika terlalu kuat.
“Aku juga sama.”
Dan sejak saat itu, mereka tidak lagi menyangkal.
Mereka mulai bertemu. Diam-diam. Singkat-singkat. Seolah waktu pun ikut bersekongkol agar tak terlalu lama mempertemukan dua hal yang seharusnya tak bersatu.
Setiap pertemuan adalah kebahagiaan yang disisipi kecemasan.
Setiap pelukan adalah hangat yang dibayangi rasa bersalah.
Namun mereka tetap melangkah, seolah yakin bahwa selama ini tersembunyi, semuanya akan baik-baik saja.
Hingga suatu hari, Sandova menangis.
Bukan tangisan biasa. Ini tangisan yang pecah tanpa bisa ditahan.
“Aku hampir bilang ke dia, Put…”
Putra terdiam. “Tentang kita?”
Sandova mengangguk, air matanya jatuh satu per satu. “Aku ngerasa jahat banget. Dia baik, dia nggak pernah nyakitin aku.”
Putra menunduk. Kata-kata itu terasa seperti pisau yang perlahan mengiris kesadarannya.
“Aku juga,” katanya pelan. “Hanya saja aku lebih jujur soal perasaanku, Aku tidak bahagia bersama dia. Sepenuhnya.”
Ruangan itu tiba-tiba terasa sesak.
Untuk pertama kalinya, mereka tidak hanya merasakan rindu satu sama lain, tapi juga beban dari dua hati lain yang mereka sakiti.
“Kita ini apa, Put?” tanya Sandova lirih.
Putra menatapnya lama. Ada ribuan jawaban di kepalanya, tapi tak satu pun terasa benar.
“Aku nggak tahu.”
“Kalau kita saling cinta, kenapa rasanya salah?”
Putra menarik napas panjang. “Mungkin karena kita mencintai di waktu yang salah.”
Hari-hari setelah itu menjadi berbeda.
Mereka masih berbicara, tapi tidak lagi seperti dulu. Ada jarak yang mulai terasa, bukan karena hilang rasa, melainkan karena tumbuhnya kesadaran.
Suatu malam, mereka kembali bertemu. Di tempat yang sama, dengan suasana yang sama, tapi hati yang tidak lagi sama.
Sandova menatap Putra dengan mata yang lebih tenang, meski menyimpan luka.
“Aku mikir banyak,” katanya.
Putra hanya diam, seolah sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini.
“Aku nggak bisa terus begini.”
Putra menelan ludah. “Yahhh.”
Hening.
Untuk pertama kalinya, mereka sepakat tanpa harus berdebat.
“Kita nggak akan pernah bisa saling punya, Put,” lanjut Sandova. “Bahkan kalau pun kita bersama, kita akan selalu bawa rasa bersalah itu.”
Putra mengangguk pelan. “Kita cuma punya sebagian, bukan seluruhnya.”
Air mata Sandova jatuh lagi, tapi kali ini lebih tenang.
“Aku capek jadi rahasia.”
Putra tersenyum pahit. “Aku juga capek jadi kebohongan.”
Mereka saling menatap, lama.
Tak ada pelukan kali ini. Tak ada genggaman tangan.
Hanya dua orang yang akhirnya memilih untuk jujur, meski itu berarti harus saling kehilangan.
“Aku sayang kamu,” kata Sandova.
Putra mengangguk. “Aku juga.”
“Tapi kita harus berhenti.”
“Iya.”
Malam itu, mereka berpisah tanpa janji untuk bertemu lagi.
Langkah mereka berlawanan arah, seperti dua garis yang sempat bersinggungan, namun tak ditakdirkan berjalan bersama.
Putra berjalan sendiri, dengan perasaan yang aneh, kosong, tapi juga ringan.
Ia akhirnya mengerti sesuatu yang selama ini ia abaikan.
Bahwa tidak semua rasa harus diperjuangkan.
Bahwa tidak semua cinta harus dimiliki.
Dan bahwa ada hubungan yang memang hanya hadir untuk mengajarkan, bukan untuk menetap.
Di sisi lain kota, Sandova menatap langit yang sama.
Untuk pertama kalinya, ia tidak menyembunyikan air matanya.
Tapi juga, untuk pertama kalinya, ia merasa sedang melakukan hal yang benar.
Karena pada akhirnya, mereka sadar.
Cinta yang utuh tidak pernah lahir dari dua hati yang setengah.





.png)
Post a Comment