aoUhVj1sFfXbUTRIyoVNm2UnxJxRFaPgs25Tl7uL

Followers

Widget HTML #1

Widget HTML (label produk)

Widget HTML (label jasa)

Menu Halaman Statis

Bookmark

Aku yang Berangkat dari Sunyi



Aku berasal dari tempat yang sunyinya tidak pernah benar-benar kosong.
Doloksanggul mengajariku cara mendengar diam: desir angin yang menabrak ladang, kabut yang turun seperti rahasia, dan doa-doa orang tua yang disimpan dalam lipatan pagi. Di sana, hidup berjalan pelan, seolah waktu tidak ingin tergesa menepati janji apa pun.

Aku menjadi guru pada 2018.
Bukan guru besar, bukan pula guru mapan. Aku hanyalah guru honorer, sebuah kata yang bunyinya ringan, tetapi bebannya berat. Di SMAN 1 Doloksanggul, aku berdiri di depan kelas dengan kemeja yang sama di hari-hari berbeda dan semangat yang kupaksa tetap menyala. Aku mengajar anak-anak yang sebagian besar ingin segera pergi dari kampung, seperti aku kelak.

Papan tulis menjadi saksi paling jujur.
Di sanalah aku menuliskan pelajaran, tetapi juga diam-diam menuliskan kegelisahanku sendiri. Setiap huruf kapur yang jatuh ke lantai seperti pertanyaan: sampai kapan?
Gajiku tidak cukup untuk menabung masa depan, tetapi cukup untuk bertahan hidup. Dan justru di sanalah masalahnya, aku hanya bertahan, tidak bergerak.

Aku mencintai profesi guru, tetapi cinta saja tidak selalu cukup untuk mengusir kecemasan. Masa depan terasa seperti halaman buku yang kosong: tak ada judul, tak ada kepastian, hanya kertas putih yang menunggu ditulisi keberanian.

Maka aku mulai memikirkan pergi.

Keputusan itu tidak datang dengan gegap gempita. Ia hadir pelan, seperti malam yang tiba tanpa mengetuk. Aku merasa bersalah pada kampung, pada murid-murid, bahkan pada diriku sendiri. Tetapi ada suara lain yang lebih lirih dan lebih jujur: jika kau tidak berangkat sekarang, kau akan membusuk dalam penyesalan.

Mei 2018, aku berangkat.

Aku meninggalkan Doloksanggul bukan dengan kemarahan, melainkan dengan kesedihan yang matang. Kampung itu tidak pernah salah; hanya saja ia tidak bisa memberiku jawaban atas semua ketakutanku. Aku membawanya dalam ingatan, jalan berlumpur, senyum sederhana, dan harapan yang tak pernah dituntut tinggi-tinggi.

Tangerang menjadi pijakan pertama.
Dua minggu yang terasa lebih panjang dari dua tahun. Aku tinggal menumpang, hidup dari rasa sungkan, dan bangun setiap pagi dengan satu rutinitas: mengirim lamaran kerja, lalu menunggu.

Menunggu adalah pekerjaan paling melelahkan.
Ia menghabiskan energi tanpa meninggalkan bekas. Aku duduk menatap layar ponsel, berharap satu panggilan masuk bisa mengubah arah hidupku. Tetapi hari-hari berlalu tanpa kabar. Aku merasa menjadi angka kecil di kota besar tak dikenal, tak penting, mudah dilupakan.

Di malam hari, kesunyian menjelma lebih kejam.
Ia tidak sekadar sunyi dari suara, melainkan sunyi dari kepastian. Aku mulai meragukan keputusanku sendiri. Kampung terasa jauh, masa depan terasa kosong, dan diriku berada di antara yang tidak sepenuhnya pergi, tidak lagi pulang.

Aku anak kampung yang belajar menjadi perantau.
Tidak ada peta yang jelas, hanya intuisi dan doa yang sering kali terasa seperti monolog panjang. Aku belajar bahwa merantau bukan sekadar berpindah tempat, melainkan berpindah identitas. Kau harus siap menjadi siapa pun agar bisa bertahan.

Ketika panggilan itu akhirnya datang, aku hampir tidak percaya.
Aku diterima bekerja di sebuah sekolah Katolik ternama di Jakarta. Kata Jakarta terdengar seperti simbol: pusat, keras, dan tidak ramah bagi mereka yang datang tanpa nama besar.

Hari pertama bekerja, aku merasa seperti orang asing di negeri sendiri.
Gedung sekolah menjulang, sistem berjalan rapi, dan tuntutan profesionalisme terasa berat. Aku kembali menjadi murid dan belajar cara berbicara, cara bersikap, cara menyesuaikan diri. Tidak ada ruang untuk manja, tidak ada toleransi bagi kelalaian.

Di sanalah hidup benar-benar mengujiku.

Ada hari-hari ketika aku pulang dengan perasaan menang dan kelas berjalan baik, murid mendengarkan, dan aku merasa berarti. Tetapi ada juga hari-hari ketika aku pulang dengan hati runtuh, mempertanyakan kelayakanku sendiri. Kota ini tidak pernah menepuk bahu dengan lembut; ia hanya berkata: bertahan atau tersingkir.

Aku mulai memahami bahwa menjadi guru di sini bukan hanya soal mengajar mata pelajaran, tetapi menghidupi nilai. Disiplin, tanggung jawab, dan kemanusiaan bertemu dalam rutinitas yang melelahkan. Aku belajar bahwa iman bukan sekadar doa, melainkan ketekunan menjalani hari-hari yang berat tanpa kehilangan arah.

Kesunyian tetap datang, tetapi kini ia berbeda.
Ia bukan lagi kesunyian orang yang tersesat, melainkan kesunyian orang yang sedang menata diri. Kekosongan masa depan masih ada, tetapi tidak lagi menakutkan. Aku mulai mengisinya sedikit demi sedikit dengan kerja, dengan refleksi, dengan kesadaran bahwa hidup tidak harus selalu jelas untuk tetap dijalani.

Aku sering menoleh ke belakang, mengingat diriku yang dulu hanya guru honorer di Doloksanggul, perantau bingung di Tangerang, dan pendatang gugup di Jakarta. Semua versi diriku itu seperti potongan cermin yang retak, tetapi justru dari retakan itulah cahaya masuk.

Kini aku tahu satu hal:
hidup tidak selalu memberi kita peta, tetapi ia selalu memberi kesempatan bagi mereka yang berani melangkah.

Aku belum sepenuhnya sampai.
Aku masih berjalan.
Masih mengajar.
Masih belajar.

Kesunyian mungkin tidak akan pernah benar-benar pergi, dan masa depan mungkin tidak akan pernah sepenuhnya terisi. Tetapi aku telah memilih untuk tidak berhenti. Dan dalam dunia yang sering kali membuat kita ingin menyerah, bertahan dengan kesadaran adalah bentuk keberanian tertinggi.

Jika ceritaku sampai pada seseorang yang sedang ragu, izinkan aku berkata ini:
perjalanan tidak selalu menjanjikan kebahagiaan, tetapi ia hampir selalu menawarkan makna.

Dan makna, pada akhirnya, cukup untuk membuat kita terus hidup.

1

1 comment

Silahkan berkomentar dengan bijak
  • Anonymous
    Anonymous
    March 3, 2026 at 6:00 AM
    Dolok Sanggul kampungku ,Naga Timbul tepatnya😍
    Reply