aoUhVj1sFfXbUTRIyoVNm2UnxJxRFaPgs25Tl7uL

Followers

Widget HTML #1

Widget HTML (label produk)

Widget HTML (label jasa)

Menu Halaman Statis

Bookmark

Guru Fixed Mindset vs Guru Growth Mindset: Guru Seperti Apa yang Dibutuhkan?

      



  Pagi itu di sebuah ruang kelas, seorang guru berdiri di depan papan tulis sambil memandang lembar jawaban siswa. Wajahnya tampak sedikit kecewa. “Kok nilai Bahasa Indonesia kalian jelek semua? Malas Belajar sih,” katanya pelan. Di sudut kelas, beberapa siswa hanya menunduk. Kalimat itu sederhana, tetapi memiliki dampak yang panjang: ia menutup kemungkinan bahwa belajar adalah proses yang bisa berkembang.

        Di ruang kelas yang lain, seorang guru menghadapi situasi yang hampir sama. Nilai siswa juga tidak memuaskan. Namun, reaksinya berbeda. “Nilai kalian belum bagus, tapi kalian bisa memperbaikinya. Mari kita cari cara belajar yang lebih efektif,” ujarnya sambil tersenyum. Di kelas ini, kegagalan tidak dipandang sebagai akhir, melainkan sebagai awal untuk mencoba lagi.

        Dua situasi tersebut menggambarkan dua cara pandang yang berbeda dalam dunia pendidikan: fixed mindset dan growth mindset.

        Istilah fixed mindset dan growth mindset diperkenalkan oleh psikolog pendidikan bernama Carol Dweck. Fixed mindset adalah pola pikir yang meyakini bahwa kecerdasan, bakat, dan kemampuan seseorang bersifat tetap. Dalam pandangan ini, siswa dianggap “pintar” atau “tidak pintar” sejak awal, sehingga kegagalan sering dianggap sebagai bukti keterbatasan. Sebaliknya, growth mindset memandang kemampuan sebagai sesuatu yang dapat berkembang melalui usaha, strategi belajar yang tepat, dan ketekunan. Dalam pola pikir ini, kesalahan bukanlah aib, melainkan bagian dari proses belajar.

        Bagi guru, kedua pola pikir ini bukan sekadar teori psikologi pendidikan. Ia menentukan cara guru melihat murid, cara guru merespons kesalahan, dan bahkan cara guru memandang profesinya sendiri.

        Dalam praktik pendidikan sehari-hari, fixed mindset sering muncul secara tidak disadari. Misalnya ketika guru memberi label kepada siswa: “anak ini pintar”, “anak itu lemah matematika”, atau “kelas ini memang sulit diatur”. Label seperti ini tampak sepele, tetapi perlahan membentuk ekspektasi yang kaku.

        Guru dengan fixed mindset cenderung melihat kemampuan siswa sebagai sesuatu yang tetap Akibatnya, perhatian lebih sering diberikan kepada siswa yang sudah terlihat unggul, sementara siswa yang tertinggal dianggap sulit berubah.  Ironisnya, pola pikir ini juga dapat terjadi pada guru sendiri. Ada guru yang merasa bahwa metode mengajarnya sudah paling benar sehingga enggan mencoba pendekatan baru. Ada pula yang merasa bahwa teknologi pendidikan terlalu rumit untuk dipelajari.

        Ketika hal ini terjadi, kelas berubah menjadi ruang yang statis: guru mengajar seperti biasa, siswa belajar sekadarnya, dan inovasi perlahan menghilang.

        Sebaliknya, guru dengan growth mindset melihat kelas sebagai ruang pertumbuhan bersama. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga terus belajar. Guru melihat bahwa kelas adalah sarana berkembang peserta didik. Bukan pengadilan yang menghakimi setiap peserta didik yang baik maupun tidak baik.

        Dalam kelas seperti ini, kesalahan siswa tidak langsung dikritik, tetapi dianalisis. Guru bertanya: bagian mana yang belum dipahami? strategi belajar apa yang perlu diperbaiki? bagaimana cara menjelaskan konsep ini dengan cara yang berbeda? atau bahkan bagaimana cara mempermuda konsep pembelajaran menjadi sangat sederhana agar mudah dipahami setiap peserta didik

        Guru dengan growth mindset juga tidak takut mengakui bahwa dirinya masih belajar. Ia mau mencoba metode baru, berdiskusi dengan rekan sejawat, mengikuti pelatihan, bahkan belajar dari siswanya sendiri. Guru melihat peserta didik bisa menjadi teman belajar, karena setiap peserta didik tentu memiliki potensi-potensi yang mungkin tidak dimiliki oleh guru. Guru seperti ini cenderung terbuka akan kritik dan masukan. Sikap ini menciptakan atmosfer kelas yang berbeda. Siswa tidak takut mencoba, karena mereka tahu bahwa kegagalan bukanlah label permanen.

        Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat. Perkembangan teknologi, perubahan kurikulum, hingga tantangan sosial yang semakin kompleks. pendidikan membutuhkan guru yang mampu terus berkembang. Guru yang membuka diri akan perubahan dinamika pembelajaran, perubahan kurikulum, perubahan model-model pembelajaran.

        Guru tidak lagi hanya berperan sebagai sumber informasi. Informasi sudah tersedia di mana-mana. Yang lebih dibutuhkan adalah guru yang mampu menumbuhkan rasa ingin tahu, membangun keberanian mencoba, dan menumbuhkan keyakinan bahwa setiap siswa dapat berkembang. 

        Dengan kata lain, pendidikan membutuhkan lebih banyak guru dengan growth mindset.  Bukan berarti guru harus selalu sempurna atau selalu berhasil. Justru sebaliknya, guru yang dibutuhkan adalah guru yang berani belajar, berani merefleksikan praktik mengajarnya, dan berani berubah ketika menemukan cara yang lebih baik. 

0

Post a Comment

Silahkan berkomentar dengan bijak